Pagi itu mungkin bukan pagi yang
terbaik bagi anak berusia tujuh tahun itu, seperti biasa papa mamanya tidak ada
di rumah dan seorang pengasuh kini dengan setia menemaninya. Dua hari lalu ia
pergi ke sekolah dan gurunya menyuruh anak laki-laki itu untuk membuat karangan
tentang ayahnya. Semua anak sudah maju ke depan, dengan ceritanya yang pendek
dan bermakna dan kadang diantara mereka ada yang menambahkan beberapa kata
seperti “Aku sayang papa” “Papaku yang terbaik” “Papaku superhero”
Kini giliran anak itu yang terakhir
maju. Kertasnya kosong karena ia tidak tahu apa yang akan ia tulis. Kakinya
sudah gemetaran seperti kesetrum listrik dan
tubuhnya kaku. Pandangan matanya pun hanya dapat mengarah pada kertas
kosongnya.
Ardi
hanya diam saja. Tidak menjawab maupun menoleh ke arah gurunya.
“Ardi, ayo nak!” untuk kedua kalinya
Bu Ani memanggil. Namun Ardi tetap saja diam. Beberapa anak di kelasnya pun
mulai menoleh ke arahnya.
“Ardi ayo cepet maju nggak papa kalau
buatan kamu jelek, punyaku juga jelek” kata Rara anak paling pintar di
kelasnya.
“Ardi ayo! Ayo! Punyamu pasti lebih
bagus dariku.” Bagas teman sebangkunya pun ikut memberikan dukungan.
Dengan cepat kelas yang dulunya sepi
itu kini sudah menjadi ramai karena saling memberikan dukungan pada Ardi. Namun
tetap saja Ardi tidak bergerak.
Bu Ani pun datang menghampirinya.
“Ardi, kenapa nak? Kamu malu sama
tulisanmu? Nggak papa, nggak ada yang jelek kok!”
“Enggak, bu” jawab Ardi dengan kepala
yang kini menghadap ke tanah.
“Kenapa sayang?” tanya Bu Ani.
Ardi kini hanya diam saja. Setelah
beberapa detik semua teman sekelasnya pun menatap anak imut yang selalu
berpakaian rapi itu. Tiba-tiba saja tanpa sadar Ardi sudah menangis, isakannya
pun mulai terdengar lirih diantara telinga teman-temannya.
“Udah, udah sayang jangan nangis” kata
Bu Ani berusaha menenangkan muridnya.”Ayo Ardi ikut ibu keluar ya, ayo!”
“Anak-anak buka buku paket halaman 3
ayo baca dulu cerita di dalamnya” perintah Bu Ani pada murid-muridnya.
“Ayo Ardi, ngomong sama Bu Guru,
kenapa kamu tidak mau maju tadi?”
“Engggak, bu Enggak, Ardi nggak bisa.”
jawab Ardi terbata-bata karena isakan tangisnya.
“Terus kenapa tadi Ardi hanya diam
saja?” tanya Bu Ani sambil mengelus-elus rambut anak itu.
“Begini, Bu...” Kata Ardi setengah
berbisik “Ardi enggak tahu harus nulis apa....... Habb....biss papanya Arr...
Dii enggak pernah ada di rumah sih, yang ada Cuma mama, mama juga kadang nggak
pernah keliatan.”
“Oh,
gitu....” kata Bu Ani dengan lembut “mungkin papa kamu nggak ada di rumah
karena sibuk bekerja. Sibuk mencari uang untuk kamu dan mama kamu. Biar Ardi
bisa sekolah punya tas, seragam, sepatu juga mainan-mainan kamu di rumah”
“Tapi kan papa nggak pernah di rumah,
Ardi juga jarang liat papa, terus buat apa semuanya kalau buat tugas aja Ardi
nggak bisa?”
“Papa kamu itu selalu ada di rumah,
tapi kamu sudah tidur, mungkin ia bekerja sampai malam. Ardi tahu bukan itu
untuk siapa?” tanya guru muda itu sambil tersenyum manis ke arah muridnya.”
tugasnya kamu kumpulin besok aja,
terserah mau tentang siapa nggak harus papa kamu, mama boleh, atau
orang-orang yang deket dengan kamu”
“Tapi Bu Anni....” Ardi mengulap air
matanya “kalau papa bekerja buat Ardi untuk dapet uang, terus apa uang itu bisa
gantiin papa buat Ardi?”
Pertanyaan itu muncul begitu saja dari mulut Ardi yang baru
berusia tujuh tahun itu. Dengan cepat guru muda itu pun menyuruh anak itu masuk
lalu memejeti setiap huruf dalam ponselnya. Matanya semakin lama semakin
memasuki masa kecilnya dulu. Masa yang sama dengan yang dialami Ardi.
Teleponpun mendapat jawaban.
*********
“Ardi sayang, ayo makan dulu” panggil
Neng Ranti pengasuh Ardi.
“Bentar, Ardi masih ada tugas Belum
selesai.” jawab ardi yang masih sibuk dengan pensil dan bukunya.
“Ayo makan dulu.... Mama Ardi akan
pulang setelah Ardi makan. Ayo tunggu
mama sambil makan, besok kan minggu, dikerjain besok aja.”
“Benar mama akan pulang lebih awal?” tanya Ardi dengan sedikit
senyum dipipinya mengetahui ibunya akan
pulang lebih awal dari biasanya
Melihat Ardi nampak senang dan tidak
menolak, Neng Rita pun menyuapinya. Selesai makan, terdengar bunyi klakson
mobil Papa Ardi, tanpa disadari mamanya sudah berjalan disamping papanya dengan
wajah murung tanpa menoleh ke arah suaminya.
“Mama pulang?” tanya Ardi sambil
tersenyum gembira.
“Iya, sayang” jawab ibunya sambil
memeluk sang anak.
“Ardi, papa dengar kamu ada tugas
sekolah ya, coba papa tanya apa tugasnya” kata Papa Ardi dengan senyum
dibibirnya.
“Iya.”
“Apa?”
“Tentang papa”
“Baiklah, besok kan minggu, ayo
kerjakan tugas sekolahmu sambil liburan.”
“Kita akan pergi ke taman hiburan”
sambung Mama Ardi.
“Tapi bukannya papa tidak punya
waktu?” kata Ardi polos.
“Itu bohong tentu papa punya donk.”
*********
Tepat di sebuah patung pahlawan dan boneka kartun anak-anak
terlihatlah sebuah keluarga kecil. Keluarga kecil yang nampak menikmati
harinya. Si kecil Ardi tertawa begitu riangnya disamping candaan ayah serta
ibunya. Kini mereka punya waktu, waktu untuk dihabiskan bersama anaknya.
Di belakang mereka seorang wanita yang
pada hari-hari biasanya berseragamkan guru berdiri memandangi keluarga kecil
itu bersama seorang pria di dekatnya.
“Kamu pernah mengalaminya bukan?”
tanya si pria.
“Iya, aku heran pada orang-orang sibuk
itu kenapa mempertaruhkan waktunya untuk uang sedangkan uang sendiri tidak bisa
membeli waktu. Ayahku sendiri bahkan
tidak melihatku saat sakit untuk mengejar bisnisnya. Bahkan sampai matipun
masih mengingat-ingat uangnya.”
“Lalu sebagai guru yang baik, apa yang
kamu lakukan pada mereka, hingga anak kecil itu mempunyai orang tua yang lebih
baik dari orang tuamu?” tanya si pria kembali.
“Aku hanya menasehati mereka sebagai
seorang guru, tapi mereka bertengkar. Salah menyalahkan. “ wanita itu menatap
lekat-lekat bros namanya yang sudah
berjam-jam di sakunya.”Tapi mereka lebih
baik dari orang tuaku.”


Out Of Topic Show Konversi KodeHide Konversi Kode Show EmoticonHide Emoticon