Recent Post

dongeng PERI DAN 3 PERMINTAAN

By     :        Isti Komah


Lembah Anna terletak jauh dari jangkauan  manusia dan tersembunyi diantara hutan lebat yang belum terjamah oleh manusia. Tempatnya indah dipenuhi bunga warna warni. Di lembah inilah hidup peri-peri yang selalu rukun dan ceria.  Mereka mempunyai seorang ratu cantik bernama Shinzing, Ratu Shinzing memimpin dengan adil dan bijaksana.
Suatu hari di musim kemarau yang panjang, tumbuh-tumbuhan layu, air di sungai mengering dan tanah tandus tidak dapat ditanami apapun, Ratu Shinzing mulai khawatir akan nasib rakyatnya yang mulai kelaparan. Ia pun mengumpulkan semua pejabat istananya untuk mencari jalan keluar.
“Bagaimana jika kita pindah saja yang mulia, kelihatannya akan banyak korban jika kita masih tinggal di sini.” menteri istana menyampaikan usulannya.
“Tapi di manakah tempat yang aman dan tepat untuk kita pindah wahai menteriku?” tanya Ratu Shinzing.
“Bagaimana dengan tempat manusia wahai Ratuku” menteri yang kedua menyampaikan usulannya.
“Tidak menteri, kita tidak pernah tinggal dengan manusia sebelumnya” tolak Ratu Shinzing “aku takut keselamatan bangsa kita akan terancam”
“Wahai Ratuku  hutan disekitar Lembah Anna sangat lebat dan subur bahkan di musim kemarau, tidakkah kita tempati saja tempat tersebut?” tanya Menteri ke tiga yang sedari tadi mencari jalan keluarnya.
“Menteriku yang bijaksana,” jawab sang ratu “ jika kita tempati hutan yang lebat itu bagaimanakah dengan nasib binatang-binatang di dalamnya, bukankah mereka juga hidup di hutan tersebut sama seperti kita dilembah ini?”
Ketiga menteri itu tertegun dan berusaha memikirkan kembali jalan keluar yang terbaik. Menteri keempat yang sedari tadi hanya diam saja pun masih mencari jalan keluar yang terbaik. Satu ide muncul difikirannya ia pun  langsung memberikan usulan itu pada Ratu Shinzing. “Yang Mulia” kata menteri keempat “kemarau ini sudah terjadi begitu panjang, seperti yang terjadi seratus tahun yang lalu, ingatkah anda pada kisah nenek moyang kita yang waktu itu juga mendapatkan kemarau panjang seperti kita sekarang ini?”
“Lalu raja mereka menyuruh beberapa kesatria untuk pergi ke Gunung Hian  lalu meminta hujan pada gelembung ajaib di sana” lanjut menteri empat dengan sangat hati-hati pada setiap ucapannya.” Bagaimana jika kita kirim saja beberapa peri ke sana dan menyuruh mereka meminta hujan pada sungai tersebut?”
Para menteri mulai berbisik mengenai pendapat menteri keempat seperti pada sidang umumnya. Ratu Shinzing pun berfikir sejenak, lalu menutup pertemuannya. Malam harinya selama berjam-jam ia kembali memikirkan usulan menteri keempat, setelah dirasanya benar segeralah ia memberikan pengumuman besar pada rakyatnya untuk meminta beberapa orang pergi ke Gunung Hian. Semua rakyatnya acuh tak acuh bahkan sebagian dari mereka ada yang sengaja tidak memperdulikan pengumuman tersebut karena mustahil untuk pergi ke Gunung Hian, tempat itu sangatlah jauh dan penuh bahaya di perjalanan ke sana.
Ketika Ratu Shinzing bertanya pada rakyatnya siapa sajakah yang mau melaksanakan tugas itu untuk bangsanya, hanya jawaban tidak bisa dan takut gagal yang mereka ucapkan. Selama berhari-hari Ratu Shinzing selalu menanyakan hal yang sama namun tetap pula jawaban tidak bisa dan takut yang terdengar. Hingga suatu hari di saat musim kemarauu sudah sangat parah serta merugikan rakyat peri barulah tiga orang peri wanita muncul menyatakan bersedia menerima resiko apapun untuk sampai ke gunung tersebut.
Sebelum berangkat, Ratu Shinzing berkata “jika sudah sampai di tempati itu mintalah pada gelembung ajaib untuk mengabulkan apa yang menjadi tujuan kalian ke sana. Jangan minta sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan pribadi kalian saja.”
Peri-peri cantik yang terdiri dari Peri Rian, Rimai dan Rintai itu bersedia dan langsung pergi menuju Gunung Hian. Di perjalanan ke Gunung itu mereka melewati Gua Naga , namun dengan kerjasama dan keahlian Rian dalam bermain musik naga-naga tersebut pun tertidur, lalu dengan mudah mereka melewatinya.
Rintangan lain yang lebih berat ketika mereka melewati hutan aneh, hutan penuh dengan lumpur serta angin bertiup sangat kencang. Awalnya Peri Rimai mengusulkan  untuk mencari jalan lain namun tidak ada dan terpaksa dengan hanya bermodalkan kayu saja mereka berjalan lumpuran tanah dan menahan angin yang kencang  agar tidak menghembuskan tubuh mereka.
Berkat usaha dan kerja keras mereka, sampailah mereka di Gunung Hian.Mereka menaiki gunung tersebut dan berusaha mencari sungai yang mengeluarkan gelembung ajaib. Tiga hari mereka mencari sungai itu dengan berkeliling ke sana ke mari di Gunung tersebut hingga mereka bertemu dengan seorang peri gunung yang terlihat sangat tua.
“Saudaraku peri gunung, bisakah kamu mengantar kami ke sungai gunung ini yang bisa mengeluarkan gelembung ajaib?” Peri Rintai meminta bantuan.
“Untuk apa kalian mencari sungai itu?” tanya Peri Gunung itu.
“Untuk menemukan gelembung ajaib yang dapat mengabulkan permintaan kami agar hujan mengalir di atas lembah kami yang kini tandus.”
Melihat ketiga kebaikan peri tersebut peri gunung pun segera mengantar mereka ke sungai yang dimaksud. Sesampainya di sana ketiga peri tersebut langsung tabjub dengan pemandangan yang mereka lihat, gelembung-gelembung itu terbang dan membawa warna tersendiri seperti warna-warna pelangi yang terkumpul.
“Gelembung-gelembung ini hanya dapat mengabulkan 3 permintaan saja, jadi manfaatkanlah kesempatan kalian dengan baik” kata peri gunung sambil mengingatkan.
Melihat gelembung-gelembung itu yang hanya dapat mengeluarkan warna saja Peri Rian menjadi yakin bahwa benda itu dapat mengabulkan permintaannya.Ia lalu berbicara pada peri-peri yang lainnya.” Wahai Peri Gunung dan  peri bangsaku, gelembung itu seperti gelembung biasa aku tidak yakin bahwa mereka dapat mengabulkan permintaan, jika benar memang ajaib, berikan aku gaun indah agar aku lebih cantik dari peri-peri lainnya.”
Segera setelah mengucapkan permintaannya, gaun indah telah menyelimuti tubuh Peri Rian. Peri Rimai yang melihat keajaiban itu langsung tabjub, ia teringat pada keluarganya yang kelaparan di Lembah Anna yang rumahnya hancur diterjang binatang buas dan tanamannya mati karena datangnya kemarau yang panjang. Ia pun lupa dengan tujuannya dan langsung mengucapkan permintaannya “ Gelembung ajaib perbaikilah rumah keluargaku yang hancur serta suburkanlah tanaman rumahku yang layu”
Peri hutan yang melihat ulah kedua peri itu hanya dapat menggelengkan kepalanya mengetahui mereka menyia-nyiakan sekempatan untuk hal-hal pribadinya. Ia pun langsung menyuruh peri ketiga untuk meminta.
Peri Rintai yang sederhana pun mengucapkan permintaannya, “aku hanya minta  hujan kembali datang ke lembahku agar kemakmuran serta kesuburan kembali datang di tanah kami.”
Setelah ketiga peri itu mengucapkan permintaan mereka masing-masing peri gunung pun mengantar mereka pulang. Sesampainya di Lembah Ann, mereka disambut meriah oleh rakyat peri, Ratu Shinzing pun menghampiri peri-peri pahlawan itu dan bermaksud memberi mereka hadiah.
“Tunggu Ratu Shinzing” kata Peri Gunung mencegah “berikanlah hadiah itu untuk Peri Rintai, karena ialah yang meminta hujan serta kesuburan untuk tanahmu ini, kedua peri yang lain  hanya kurang percaya diri dan mementingkan kepentingan pribadinya saja. Mereka hanya meminta apa yang baik untuk diri mereka sendiri serta lupa tujuan mereka sendiri.”
Ratu Shinzing pun menuruti kata Peri Gunung lalu memberikan hadiah itu pada Peri Rintai. Peri Rintai yang sederhana dan baik tidak menikmati hadiah itu sendiri, walaupun  kedua peri itu salah tapi tetaplah mereka yang membantunya dan menemaninya menemukan gelembung ajaib itu. Dengan iklas ia pun membagi hadiah itu pada dua temannya.



Previous
Next Post »
Thanks for your comment

Paling Dilihat