By : Isti Komah
Lembah
Anna terletak jauh dari jangkauan
manusia dan tersembunyi diantara
hutan lebat yang belum terjamah oleh manusia. Tempatnya indah dipenuhi bunga
warna warni. Di lembah inilah hidup peri-peri yang selalu rukun dan ceria. Mereka mempunyai seorang ratu cantik bernama
Shinzing, Ratu Shinzing memimpin dengan adil dan bijaksana.
Suatu
hari di musim kemarau yang panjang, tumbuh-tumbuhan layu, air di sungai
mengering dan tanah tandus tidak dapat ditanami apapun, Ratu Shinzing mulai
khawatir akan nasib rakyatnya yang mulai kelaparan. Ia pun mengumpulkan semua
pejabat istananya untuk mencari jalan keluar.
“Bagaimana
jika kita pindah saja yang mulia, kelihatannya akan banyak korban jika kita
masih tinggal di sini.” menteri istana menyampaikan usulannya.
“Tapi
di manakah tempat yang aman dan tepat untuk kita pindah wahai menteriku?” tanya
Ratu Shinzing.
“Bagaimana
dengan tempat manusia wahai Ratuku” menteri yang kedua menyampaikan usulannya.
“Tidak
menteri, kita tidak pernah tinggal dengan manusia sebelumnya” tolak Ratu
Shinzing “aku takut keselamatan bangsa kita akan terancam”
“Wahai
Ratuku hutan disekitar Lembah Anna
sangat lebat dan subur bahkan di musim kemarau, tidakkah kita tempati saja
tempat tersebut?” tanya Menteri ke tiga yang sedari tadi mencari jalan
keluarnya.
“Menteriku
yang bijaksana,” jawab sang ratu “ jika kita tempati hutan yang lebat itu
bagaimanakah dengan nasib binatang-binatang di dalamnya, bukankah mereka juga
hidup di hutan tersebut sama seperti kita dilembah ini?”
Ketiga
menteri itu tertegun dan berusaha memikirkan kembali jalan keluar yang terbaik.
Menteri keempat yang sedari tadi hanya diam saja pun masih mencari jalan keluar
yang terbaik. Satu ide muncul difikirannya ia pun langsung memberikan usulan itu pada Ratu
Shinzing. “Yang Mulia” kata menteri keempat “kemarau ini sudah terjadi begitu
panjang, seperti yang terjadi seratus tahun yang lalu, ingatkah anda pada kisah
nenek moyang kita yang waktu itu juga mendapatkan kemarau panjang seperti kita
sekarang ini?”
“Lalu
raja mereka menyuruh beberapa kesatria untuk pergi ke Gunung Hian lalu meminta hujan pada gelembung ajaib di
sana” lanjut menteri empat dengan sangat hati-hati pada setiap ucapannya.”
Bagaimana jika kita kirim saja beberapa peri ke sana dan menyuruh mereka
meminta hujan pada sungai tersebut?”
Para
menteri mulai berbisik mengenai pendapat menteri keempat seperti pada sidang
umumnya. Ratu Shinzing pun berfikir sejenak, lalu menutup pertemuannya. Malam
harinya selama berjam-jam ia kembali memikirkan usulan menteri keempat, setelah
dirasanya benar segeralah ia memberikan pengumuman besar pada rakyatnya untuk
meminta beberapa orang pergi ke Gunung Hian. Semua rakyatnya acuh tak acuh
bahkan sebagian dari mereka ada yang sengaja tidak memperdulikan pengumuman
tersebut karena mustahil untuk pergi ke Gunung Hian, tempat itu sangatlah jauh
dan penuh bahaya di perjalanan ke sana.
Ketika
Ratu Shinzing bertanya pada rakyatnya siapa sajakah yang mau melaksanakan tugas
itu untuk bangsanya, hanya jawaban tidak bisa dan takut gagal yang mereka
ucapkan. Selama berhari-hari Ratu Shinzing selalu menanyakan hal yang sama
namun tetap pula jawaban tidak bisa dan takut yang terdengar. Hingga suatu hari
di saat musim kemarauu sudah sangat parah serta merugikan rakyat peri barulah
tiga orang peri wanita muncul menyatakan bersedia menerima resiko apapun untuk
sampai ke gunung tersebut.
Sebelum
berangkat, Ratu Shinzing berkata “jika sudah sampai di tempati itu mintalah
pada gelembung ajaib untuk mengabulkan apa yang menjadi tujuan kalian ke sana.
Jangan minta sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan pribadi kalian saja.”
Peri-peri
cantik yang terdiri dari Peri Rian, Rimai dan Rintai itu bersedia dan langsung
pergi menuju Gunung Hian. Di perjalanan ke Gunung itu mereka melewati Gua Naga
, namun dengan kerjasama dan keahlian Rian dalam bermain musik naga-naga
tersebut pun tertidur, lalu dengan mudah mereka melewatinya.
Rintangan
lain yang lebih berat ketika mereka melewati hutan aneh, hutan penuh dengan
lumpur serta angin bertiup sangat kencang. Awalnya Peri Rimai mengusulkan untuk mencari jalan lain namun tidak ada dan
terpaksa dengan hanya bermodalkan kayu saja mereka berjalan lumpuran tanah dan
menahan angin yang kencang agar tidak
menghembuskan tubuh mereka.
Berkat
usaha dan kerja keras mereka, sampailah mereka di Gunung Hian.Mereka menaiki
gunung tersebut dan berusaha mencari sungai yang mengeluarkan gelembung ajaib.
Tiga hari mereka mencari sungai itu dengan berkeliling ke sana ke mari di
Gunung tersebut hingga mereka bertemu dengan seorang peri gunung yang terlihat
sangat tua.
“Saudaraku
peri gunung, bisakah kamu mengantar kami ke sungai gunung ini yang bisa
mengeluarkan gelembung ajaib?” Peri Rintai meminta bantuan.
“Untuk
apa kalian mencari sungai itu?” tanya Peri Gunung itu.
“Untuk
menemukan gelembung ajaib yang dapat mengabulkan permintaan kami agar hujan
mengalir di atas lembah kami yang kini tandus.”
Melihat
ketiga kebaikan peri tersebut peri gunung pun segera mengantar mereka ke sungai
yang dimaksud. Sesampainya di sana ketiga peri tersebut langsung tabjub dengan
pemandangan yang mereka lihat, gelembung-gelembung itu terbang dan membawa
warna tersendiri seperti warna-warna pelangi yang terkumpul.
“Gelembung-gelembung
ini hanya dapat mengabulkan 3 permintaan saja, jadi manfaatkanlah kesempatan
kalian dengan baik” kata peri gunung sambil mengingatkan.
Melihat
gelembung-gelembung itu yang hanya dapat mengeluarkan warna saja Peri Rian
menjadi yakin bahwa benda itu dapat mengabulkan permintaannya.Ia lalu berbicara
pada peri-peri yang lainnya.” Wahai Peri Gunung dan peri bangsaku, gelembung itu seperti
gelembung biasa aku tidak yakin bahwa mereka dapat mengabulkan permintaan, jika
benar memang ajaib, berikan aku gaun indah agar aku lebih cantik dari peri-peri
lainnya.”
Segera
setelah mengucapkan permintaannya, gaun indah telah menyelimuti tubuh Peri
Rian. Peri Rimai yang melihat keajaiban itu langsung tabjub, ia teringat pada
keluarganya yang kelaparan di Lembah Anna yang rumahnya hancur diterjang
binatang buas dan tanamannya mati karena datangnya kemarau yang panjang. Ia pun
lupa dengan tujuannya dan langsung mengucapkan permintaannya “ Gelembung ajaib
perbaikilah rumah keluargaku yang hancur serta suburkanlah tanaman rumahku yang
layu”
Peri
hutan yang melihat ulah kedua peri itu hanya dapat menggelengkan kepalanya
mengetahui mereka menyia-nyiakan sekempatan untuk hal-hal pribadinya. Ia pun
langsung menyuruh peri ketiga untuk meminta.
Peri
Rintai yang sederhana pun mengucapkan permintaannya, “aku hanya minta hujan kembali datang ke lembahku agar
kemakmuran serta kesuburan kembali datang di tanah kami.”
Setelah
ketiga peri itu mengucapkan permintaan mereka masing-masing peri gunung pun
mengantar mereka pulang. Sesampainya di Lembah Ann, mereka disambut meriah oleh
rakyat peri, Ratu Shinzing pun menghampiri peri-peri pahlawan itu dan bermaksud
memberi mereka hadiah.
“Tunggu
Ratu Shinzing” kata Peri Gunung mencegah “berikanlah hadiah itu untuk Peri
Rintai, karena ialah yang meminta hujan serta kesuburan untuk tanahmu ini,
kedua peri yang lain hanya kurang
percaya diri dan mementingkan kepentingan pribadinya saja. Mereka hanya meminta
apa yang baik untuk diri mereka sendiri serta lupa tujuan mereka sendiri.”
Ratu
Shinzing pun menuruti kata Peri Gunung lalu memberikan hadiah itu pada Peri
Rintai. Peri Rintai yang sederhana dan baik tidak menikmati hadiah itu sendiri,
walaupun kedua peri itu salah tapi
tetaplah mereka yang membantunya dan menemaninya menemukan gelembung ajaib itu.
Dengan iklas ia pun membagi hadiah itu pada dua temannya.

Out Of Topic Show Konversi KodeHide Konversi Kode Show EmoticonHide Emoticon