Recent Post

cerpen SALAHKAH HIJABKU?


          Aku memandangi cermin persegi panjang yang menyatu dengan lemari di depanku. Bayangan wajahku samar-samar mulai menampakkan senyumnya, tapi senyum itu hanya sementara dan segera memudar ketika fikiran-fikiran jahat datang dalam diriku.
          Apa yang kamu lakukan, kamu mau menghancurkan masa depanmu dengan menggunakan kain itu dikepalamu? Kamu  mau menjadi orang kuper yang tidak bisa mengikuti trend fashion yang ada. Kenakan saja kain itu nanti setelah menikah, nikmati masa mudamu dulu. Nikmati baju-baju indah di butik, nikmati kehidupan yang tidak dibatasi dengan kain itu.
          Batinku membenarkan semua opini itu. Sekali lagi aku mencoba berfikir, benarkah hijab ini menghalangiku? Kusentuh jilbab yang sudah menutupi kepalaku. Tidak, itu tidak benar, aku tidak bisa melepaskan kain ini. Ini sudah menjadi keputusanku dan apapun yang terjadi aku siap menerimanya.  Kualihkan pandanganku pada buku-buku religi dan kitab Al-Quran lengkap dengan terjemahannya di sebelahku. Kurapikan buku-buku itu di rak kamarku. Sudah jam setengah sepuluh dan aku harus mendatangi  Ekskul jurnalis di sekolahku.
          “Fia, ayo  berangkat!” ajak sahabatku Emma dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
          “Iya, sebentar ya, aku rapiin jilbab aku dulu” jawabku sambil memandangi cermin sekali lagi dan menyematkan bros di jilbabku.
          “Kamu bener mau pergi dengan hijaban. Aduh, Fia jilbab itu buat di hari-hari sekolah aja kalau libur nggak usah dipakai, nggak usah sok religius deh”  kata  Fia yang langsung membuat hatiku sakit.
          “Udahlah, nggak papa.  Enggak ada yang salah kok” jawabku sambil menampakkan senyum ramah ke temanku.
          Jam Sepuluh kami sudah sampai di sekolah.  Ekskul Jurnalis berjalan dengan lancar dan banyak karya dari teman-teman yang masuk. Emma juga turut memberikan sebuah cerpen yang cukup menyentuh. “ Bagus nih kalau dimasukin ke majalah sekolah, Emma kayaknya kamu berbakat deh.” Puji Mbak Amira ketua ekskul kami.
          “Fia sekarang udah hijaban ya?” tanya temanku Rara yang tiba-tiba saja datang dan sedikit mengagetkanku “tapi kok jilbabnya  kayak gitu kayak anak pondokan aja. Mending kayak gini, lebih bagus.” Tambahnya sambil menarik ujung jilbabku ke belakang. Aku hanya tersenyum dan membenarkannya terurai “ enggak apa-apa kok.” jawabku singkat.
          Hari-hariku menggunakan hijab membuatku merasa senang bisa melaksanakan perintah Allah tapi juga sedikit sedih dengan respon orang-orang di sekitarku. Tetangga-tetangga banyak yang mengataiku Bu Ustazah sekarang padahal ayat Al-Quran saja hanya beberapa surat pendek yang kuhafal.  Dan bisik-bisik mereka juga ada yang mengataiku berlebihan dan terlalu fanatik karena hijab yang kupakai berbeda dengan yang orang-orang sekitarku kenakan, mereka biasanya menggunakan hijab ketika mau ke pasar, ke pesta, dan kadang tidak jarang menampakkan bentuk lekuk tubuh mereka dan tidak jarang auratnya juga masih terbuka. Sedangkan aku sendiri pakaian serba longgar dan tidak jarang menggunakan kaos kaki yang orang bilang katanya kayak orang lagi masuk angin.
          Tapi komentar orang tidak membuatku melepaskan jilbab ini.  Aku juga masih senang bergaul dengna teman-temanku yang belum berhijab atau yang berhijab hanya ketika pergi ke sekolah saja.
          “Fia, pacarku nyebelin banget sih, masak udah janjian enggak dateng-dateng. Udah aku tunggu 2 jam ternyata dianya molor, kesel” rengek sahabatku, Anggi dengan muka kesalnya.
          “Kamu nunggu sendiri , Nggi?” Rena balas bertanya.
          “Enggak untung aja ada Afni di sana. Kalau enggak aku kayak orang ilang sendirian.” jawab Anggi dengan nada masih kesal.
          “Mungkin dia kecapean kali” kataku mencoba berpositif thinking.
          “Ah, enggak semua cowok emang kayak gitu, cowokku Andi juga sering, sukanya bohong mulu” Rena kembali menambahi seperti mau memanas-manasi Anggi.
          “Terus kenapa pada mau pacaran?Kalau.....” kata-kataku terpotong yang langsung di sela oleh Rena.
          “Iiih, Fia kudet, kita itu pacaran buat belajar tentang cinta. Terus kenapa kamu nggak mau pacaran?”
          “Iya, pasti gara-gara jilbab kamu ya? Udah nggak papa banyak kok di luar sana orang hijaban tapi masih pacaran. Oh ya, kalau enggak nanti kamu aku comblangin aja sama teman aku. Aku punya banyak temen cowok lho.” Tambah Anggi yang kelihatannya sudah melupakan kekesalannya.
          “Ah, maaf kayaknya aku enggak bisa pacaran. Bukan karena jilbab ini tapi karena banyak alasan” belaku yang tidak ingin disalahkan karena Jilbab yang kukenakan.  Kami kembali melanjutkan obrolan yang kemudian menjerumus pada beberapa pengalaman masa lalu. Sampai tidak sadar sudah ada Emma dan Karin dengan print out-tan naskah drama yang akan kami pentaskan minggu depan.
          “Kalian udah dapet kostum buat drama besok kan?” tanya Emma pada teman-temanku “Fia, besok kamu lepas jilbab ya, kamu kan karakternya anak pembantu yang sok kecentilan. Nanti cari baju yang bagus juga sama karakter kamu.”
          “Lepas?” tanyaku kaget “tapi kan salah satu kelompok kita ada cowoknya. Kayaknya enggak bisa deh.”
          “Cuma sehari aja.” kata Emma ngotot.
          “Enggak bisa, aku udah mantep.”
          “Kamu tuh gimana sih, Cuma sehari! peran kita juga sudah ditentukan. Masak dirubah, jangan ngancurin pentas drama kita deh.”
          “Tapi kan kamu tahu sendiri aku udah hijaban, aku nggak bisa.”
          “Udah, POKOKNYA KAYAK GITU!” Bentak Emma sambil berjalan meninggalkan aku dan teman-temanku.
          “Kok Emma kayak gitu sih?” tanyaku pada Karin melihat sikap Emma yang tidak seperti biasanya.
          “Aku juga nggak tahu. Mungkin lagi banyak masalah kali” jawab Karin.
          “Ya, udah kita biarin dia sendiri aja dulu” saran  Anggi dan aku pun menganggukkan kepala tanda setuju.

                                      ***************
          “Fia,sejak kapan kamu berhijab?” tanya Bang Aji ketua remaja Masjid di desaku.
          “Udah lama sih, tapi baru beberapa bulan ini mantep berhijabnya” jawabku singkat.
          “Wah, bagus tuh. Ingat itu perintah Allah dan hijab itu akan melindungi kamu” Bang Aji mengingatkanku. Dia pun kemudian mengucapkan beberapa ceramah pada remaja masjid lainnya yang sebenarnya cukup bagus juga cara penyampaiannya. Diantara remaja masjid itu ada juga orang luar yang emang pengen menambah illmu dengan mendengarkan ceramah dan beberapa tanya jawab diantara kami. Tidak kusangka ada Karin yang nampak asyik dengan ceramah Bang Aji.
          Setelah ceramah dan tanya jawab selesai aku pun mendekati Karin.
          Kulihat raut wajahnya biasa-biasa saja tapi lama-lama dia mulai menangis sambil meraba-raba kerudungnya.” Fia, tadi Bang Aji ceramah tentang wanita, tentang hijab tentang siksa Allah, aku sadar aku belum menutup auratku, bahkan aku juga jarang solat. Aku takut siksa neraka nanti.....”
          “Iya, masih ada waktu untuk berubah kok” hiburku sambil kupeluk tubuhnya.
          “Aku pengen berhijab sekarang, aku juga pengen memperbaiki sikap dan ibadahku.”
          Aku tidak menyangka bahwa Karin juga tertarik untuk berhijab. Aku senang ada temanku yang benar-benar mau menutup auratnya. Tapi hal yang berbeda justru ditunjukkan sahabat dekatku Emma, semenjak maju drama yang tetap kupaksakan berhijab hubungan kami jadi memburuk. Dia lebih sering menjauhiku tanpa sebab. Memang kadang ada beberapa teman yang mengajakku untuk menonoton band atau pergi keluyuran malam-malam, aku menolaknya. Tidak jarang juga mereka menyuruhku untuk melepaskan jilbabku agar lebih bebas.  Aku tidak memberikan respon yang menyinggung mereka, semoga saja mereka segera mendapatkan hidayah begitulah yang kukatakan dalam doaku. Tapi ketika aku mendapatkan masa datang bulanku, kadang fikiran jahat itu datang lagi.
          Benarkah hijab ini menghalangiku?
          “Iya, aku jadi sulit seperti cewek pada umumnya. Aku selalu kesepian tidak punya pacar, aku sulit mendapatkan teman yang kurang setuju dengan hijab syariku dan kadang model-model baju baru membuatku ingin memakainya di luar.”
          Bagaimana dengan masa depanmu?
          “Kalau aku melamar kerja di perusahaan dengan mengenakan hijab kayaknya kurang banyak yang setuju, apalagi hijab dikatakan sebagai salah satu cara menutupi kenakalan remaja karena menggunakan cat rambut dan tindik yang berlebihan.”
          Bagaimana dengan jodoh?
          “Punya pacar aja enggak,pake mikirin jodoh segala”
          Bagaimana dengan respon orang lain?
          “Kenapa banyak yang tidak menerimanya, jadi bahan gosip, jadi alibi untuk membicarakan kejelekanku, harusnya kan disambut dengan baik.”
          Dan bagaimana dengan...............

          Sudah.... sudah semakin banyak hal negatif yang kufikirkan akan mendatangkan kehancuran untukku. Kukira setelah fikiran itu berlalu dan memulai aktivitas baru aku akan melupakannya. Tapi ternyata tidak, aku terus  kefikiran, ditambah lagi dengan hubunganku sama Emma yang mulai memburuk membuatku semakin frustasi. Aku menjadi serba salah di depan Emma yang kelihatannya berusaha menjauhkanku dengan teman-teman sekelas. Apa yang salah dengan hijabku? Kenapa semenjak berhijab aku jadi serba salah? Lambat laun fikiran negatif lainnya datang dan aku mulai teringat dengan perlakuan orang-orang padaku. Aku terus memikirkannya sampai  ketika aku solat di masjid tanpa sadar aku melewatkan solat berjamaah karena sibuk berkutat dengan fikiranku.
          “Hussh, jangan nglamun!” ucap sebuah suara yang mengagetkanku. Ternyata itu Bang Aji  bersama iserinya yang kini menampakkan senyum ke arahku.
          “Enggak kok mas,  hanya........” aku langsung diam, ngeblank benar-benar kosong, aku tidak tahu lagi apa yang harus aku katakan.
          “Bang, kayaknya Dhek Farhan udah nunggu tuh di depan. Abang duluan aja, biar Fatimah pulang sama Fia nanti” kata Mbak Fatimah pada Bang Aji. Aku tahu kalau dia hanya bermaksud menyuruh Bang Aji pergi agar aku tidak lebih malu dan canggung.
          “Iya, Abang duluan ya, Assalamualaikum” pamit Bang Aji yang segera meninggalkan kami berdua.
          “Fia, kamu lagi ada masalah ya?” tanya Mbak Fatimah  dengan lembut.
          “Enggak kok mbak” ucapku berbohong.
          “Nggak mungkin kalau kamu lagi nggak ada masalah nggak mungkin sampai ninggalin solat berjamaah buat ngelamun sendiri pasti lagi ada masalah.”
          “E.............” aku diam sesaat.
          “Ayo bilang aja, insyaallah, mungkin nanti mbak bisa membantu mencari jalan keluarnya atau setidaknya Mbak bisa jadi tempat curhat buat Fia.”
          Aku sedikit ragu. Tapi susah juga untuk diungkapkan, mbak Fatimah sangat baik, pengertian dan sangat dapat dipercaya, tapi..... aku merasa percumah saja.
          “Fia.....”
          “Aku nggak tahu mbak.... hiks” ucapku yang tanpa sadar air mataku ikut mengalir juga “ Mbak, sejak aku make jilbab ini kok rasanya dunia nggak adil banget. Diwaktu udah mantep, udah berserah diri, tapi..... kok imamku jadi lemah gini. Banyak masalah, banyak keraguan..... hiks”
          “Udah....udah.... sini cerita aja sama, Mbak, ada apa?” sekali lagi Mbak Fatimah menampakkan senyum ramahnya padaku, aku pun dengan tiba-tiba langsung ada di pelukannya.
          “Mbak, sejak hubungan aku sama sahabat aku memburuk, aku jadi mikir kok nggak adil banget, aku sudah berusaha sabar dengan pandangan orang lain yang selalu aja negatif tentang perubahan mendadakku. Tapi kok Cuma masalah kecil aku jadi lemah gini......”
          “Emang dari kapan kamu bertengkar sama Emma, terus masalahnya apa?” tanya Mbak Fatimah dengan lembut.
          “Aku nggak tahu mbak, sejak aku make hijab dia jadi berubah. Terus aku dibenci dengan alasan yang nggak aku tahu, dan...... tiap kali aku sendiri tuh aku jadi aneh, aku jadi mikir negatif, aku jadi teringat kata orang-orang, katanya fanatiklah, sok suci.... hiks.... kayaknya nggak adil banget lho mbak,  Fia jadi ragu sama hijab Fia jadi pengen kayak dulu lagi, bebas.....”
          “Hush, apa yang kamu bilang. Fia nggak boleh kayak gitu!” Kata Mbak Fatimah memotong ucapanku “Jilbab itu bukan  penjara, jilbab itu pelindung, penyelamat kaum wanita. Kamu nggak boleh kayak gitu, hanya karena masalah sepele. “
          “Tapi mbak, ini udah nggak adil.....”
          “Yang namanya yang nggak adil itu Cuma opini kamu aja. Kamu bilang kamu pengen bebas, apa yang menghalangi kamu buat bebas, hijab itu tidak mengekang siapapun. Mbak juga berhijab, tapi nggak ada masalah kok. Tapi emang gitu, Fia kalau awal-awal pake hijab emang banyak cobaannya. Dulu mbak juga kayak kamu, kuncinya sabar dan selalu ikhlas. Jangan patah semangat kayak gitu donk, ayo senyum kayak biasanya. Mana Fia yang dulu, yang selalu bersemangat pake hijab, yang selalu istiqomah solatnya? Mana Fia yang selalu sabar.”
          “Mbak..... hiks”
          “Udah, sini.... sini.... Hijab itu bukan aib jangan dilepas, aku dulu pernah sekali melepaskannya dan aku sangat menyesal sampai sekarang. Jilbab itu pelindung, jangan pernah sekalipun melepasnya untuk alasan duaniawian, ketika Mbak mulai memakai hijab lagi, juga banyak yang memperlakuakn Mbak tidak adil. Tapi Mbak sabar aja lama kelamaan juga mereka bisa menerimanya karena alasan tertentu.”
          Aku hanya diam. Aku benar-benar bingung dan sedih. Kata-kata Mbak Fatimah sedikit menyadarkanku tentang artinya hijab. Sampai aku benar-benar bisa berpositif thinking lagi dan bersyukur atas hidayah Tuhan, rasanya malu juga menangisi hal sepele.
         
                                      ***************
          “Gimana, bagus nggak?” Tanya Karin padaku sambil menunjukkan gaya hijabnya yang belum sepenuhnya sesuai syariat.
          Aku menganggukkan kepala sambil tersenyum ke arahnya.
          “Untuk ke depan tolong bimbing aku ya. Untuk hari ini sih masih kayak gini biar orang-orang nggak kaget liat perubahanku. Tapi kedepannya aku akan mencoba lebih baik lagi dalam memakai hijab dan melaksanakan aturan agama.”
          Aku untuk sekali lagi tersenyum mendengar penjelasan Karin. Alhamdulillah akhirnya ada juga salah satu temanku yang mendapatkan hidayah. Walaupun entah banyak teman-teman yang menjauhiku tanpa alasan. Sepertinya imejku sudah tersoreng jelek karena gosip tidak bertanggung jawab yang beredar tentangku. Dari beberapa orang yang  masih percaya dan peduli padaku katanya ada yang mengatakan bahwa hijabku hanya alasan untuk menutupi perbuatan-perbuatan tidak bermoral yang kulakukan, dan aku sendiri sebenarnya sangat munafik, sok solat sok ngaji padahal masih sering ngejelek-jelekin orang lain dibelakang mereka.
          Astagfirullah, ucapku ketika mendengar penjelasan tersebut. Aku pun hanya mengelus dada dan berusaha sabar.” Siapapun yang mengatakan itu, aku yakin Allah Maha adil, maha melihat dan mendengar, seiring berjalannya waktu orang lain juga akan tahu kebenaran di balik gosip itu” Aku berusaha menghibur diriku sendiri. Tidak apa-apa aku sudah mulai terbiasa menghadapi masalah dengan tenang, aku tidak ingin terlalu gegabah dan membuatku malu sendiri seperti yang kemarin dengan Mbak Fatimah. Kuncinya sabar dan Ikhlas. Dan kuharap semora saja hubunganku dengan Emma kembali membaik seperti dulu dan dia juga bisa menerima hijabku. Lagian, hijabku tidak salah, hanya jalan fikiranku saja yang akan menentukan makna sebenarnya hijab itu.

Tungu di cerita berikutnya ya. Dan sorry kalau belum menarik banget, maklum masih belajar. Semoga cerita berikutnya lebih menghibur. Amin.


Previous
Next Post »
Thanks for your comment

Paling Dilihat