Recent Post

TEMAN RENA part 1




          “Siapa tuhm cantik banget?” Pertanyaan-pertanyaan itu berulang kali terucap diantara siswa-siswi SMK Taruna dua ketika gadis  cantik bertubuh kurus, berambut panjang dan berkulit putih itu berjalan melewati kerumunan siswa-siswi yang sedang berkumpul menunggu bel masuk berbunyi.
          Gadis yang menjadi pusat perhatian itu hanya diam, sesekali menunduk karena malu sesekali tersenyum tanpa sebab. Entah karena senang atau karena sedih. Dulu bahkan tidak ada seorangpun yang tahu siapa namanya, hanya tahu bahwa dia sangatlah pendiam dan gadis sakit-sakitan. Sesampainya di kelas 11A, dia duduk di tempat duduknya tepat di pojok kanan belakang di mana anak-anak lain jarang menoleh ke arah itu. Teman-temannya yang sedari tadi bertanya-tanya siapa  anak baru itu mulai menanyainya satu persatu.
          “Dari mana asal sekolah kamu?” tanya salah satu teman laki-lakinya.
          “Dulu gimana di sekolah lama?” tanya yang lainnya.
          “Kenapa kamu pindah ke sini?”
          “Gimana rasanya pindah ke sekolah baru?”
          “Kenapa kamu duduk di situ? Yang duduk di situ lagi sakit lho!!!”
          “Oh, ya siapa nama kamu?”
          Gadis itu hanya diam ketika satu persatu teman-temannya bertanya. Kesal karena tidak ada jawaban teman-temannya mulai meninggalkannya. Namun ada juga yang tetap duduk atau berdiri di sekitarnya.
          “Nggak usah malu-malu kita di sini kan bakalan jadi teman, jadi rileks aja nggak usah grogi.” Kata gadis perempuan bernama Emma dengan lembut.
          “Emma, apa-apaan ah” jawab gadis itu sambil menampakkan senyumnya. Mungkin belum banyak yang tahu diantara teman-temannya bahwa gadis itu adalah Rena, gadis yang jarang bergaul dengan teman-temannya dan sering sakit-sakitan. Bahkan dalam seminggu kadang ia hanya bisa mengikuti 2 hari pelajaran, selebihnya dihabiskan di rumah, bersama ibunya yang selalu sabar menemaninya ketika sakit.
          Kemarin hampir 2 bulan dia tidak masuk sekolah karena harus dirawat di rumah sakit. Tubuh kurusnya semakin kurus, namun setelah tiga  minggu lebih perbaikan gizi, sekarang berat badannya sudah bertambah menjadi ideal dan wajah cantiknya yang tersembunyi pun  sudah nampak.
          Bel masuk sudah berbunyi, siswa-siswi yang berkumpul di dekatnya sudah berlarian menuju tempat duduknya masing-masing dan seperti biasanya teman sebangkunya  yang aktif dalam kegiatan pramuka baru datang setelah  berkumpul mengurusi anak-anak pramuka kelas 10 pagi tadi. Gadis yang awalnya tampak  tidak bersahabat dengan dia pun kini tersenyum menyapanya.” Anak baru, ya? Hey, namaku Lala.” ucapnya sambil mengulurkan tangan.
          Rena hanya diam lalu tersenyum tipis. Guru di mapel bahasa indonesia mengabsen satu per satu siswa di kelas. Dan sampai di Absen ke 21 nama Rena dipanggil dan semua orang hanya diam setengah kaget melihatnya mengacungkan jari.
          “Rena???” tanya salah satu dari mereka dengan heran.
          “Bukannya dia anak baru, kok Rena sih?”
          “Nggak mirip.”
          “Oprasi plastik ya!!!”
          Satu persatu dari mereka menduga-duga. Pelajarang di mulai dan jam 09.00 tepat waktu istirahat pelajaran selesai. Kembali satu per satu siswa mulai menggerombolinya.
          “Oh, kamu Rena, pantes Cuma diam sama senyum, malu ya dibilang anak baru?” tanya Venita yang memang mudah ceplas-ceplos.
          “Rena? Aku nggak percaya kamu Rena, kok nggak mirip ya?” tanya Arga  ketua kelas 11A.
          “Nggak percaya, kukira murid baru, maaf ya?” ucap Ari sambil tersenyum.
          “Nggak papa kok, banyak yang salah sangka.” Rena tersenyum tipis, setengah ihklas setengah canggung. Jarang sekali ada orang yang bertanya dengannya kecuali kalau sedang kasihan melihatnya yang hanya diam sendirian di tempat duduknya.
          “Kamu sakit apa sih, kok lama banget di rumah sakitnya?” tanya Emma yang sudah duduk berdesakan dengan Ari dan Venita yang duduk di depan Rena.
          “E..... alergi sama tifus tapi alhamdulillah sudah sembuh sih” Rena meringis melihat beberapa ekspresi teman-temannya yang penasaran juga teman-temannya yang lain yang sudah melotot dan merengut melihat gadis pendiam dan pemalu itu banyak yang mendekatinya.
          “Oh, pantes kamu sering nggak masuk ya.” kata  Arga memberi kesimpulan lalu berjalan mendekati beberapa siswi wanita yang duduk di depan kelas. Satu persatu dari mereka mulai membicarakannya, ada juga yang mengejeknya. Mereka juga mulai mengatakannya operasi plastik.
          Beberapa hari kemudian banyak yang berubah, gadis pendiam itu jadi populer, bukan hanya karena dia cantik tapi juga lambat laun menjadi anak teladan karena pandai dalam beberapa mata pelajaran.
          “Udah selesai, Ren?” tanya  Venita yang akhir-akhir ini mulai suka berteman dengan Rena.
          “I....iya...tap...tapi aku belum yakin” jawab Rena terabata-bata.
          “Udah maju aja” Venita memberikan dorongan.
          “Iya dapet nilai tambahan nanti lho” tambah Ari di dekatnya.
          Dengan wajah tertunduk Rena maju mengerjakan soal di papan tulis. Yang lainnya ada  yang mulai mengetahui potensi terpendam Rena tapi ada pula yang bertaka bahwa Rena Cuma carper. Selesai mengerjakan dua teman di depannya yang mulai bersahabat dengannya satu per satu memberika semangat juga pujian. Sedangkan gadis di sebelahnya hanya diam. Lala mungkin salah satu dari mereka yang tidak suka dengannya. Duduk sebangku dengan Rena saja hanya karena terpaksa teman sebangkunya dulu berganti tempat duduk dengan teman sebangku Rena.
          “Bagus juga kamu sudah mulai mau maju.” kata Lala dengan wajah datar.” Aku nggak tahu kalau kamu ternyata bisa juga matematika.”
          “Oh, ya kelompokan bahasa Jawa kamu sama siapa?” tanya Rena.
          “Sama Puput, Anita  ya, gerombolannya dia, kamu belum dapat kelompok sih, bareng aja sama aku” ajak Lala dengan wajah yang masih datar.
          “Iya” Jawab Rena masih seperti dulu, menjadi gadis pasrah. Tapi beberapa hari kemudian ketika bertanya tentang kelompkkan Drama bahasa jawa Lala Cuma diam. Lalu tersenyum-senyum sendiri ke arah Puput dan teman-temannya ketika Rena bertanya.
          “Aduh maaf  banget Rena, kelompok kita udah pas, aduh, aku lupa kalau Arga udah masuk jadi kelompok kita. Maaf ya....”kata Puput sambil tersenyum lalu berbisik ke arah Lala.
          “E.....” Rena hanya diam, dia berdiri cukup lama tanpa banyak bicara.
          “Rena kamu belum dapet kelompok?” tanya Venita.
          Rena menganggukkan kepala.
          “Udah kamu masuk kelompok aku aja kebetulan kurang satu” kata Antin tiba-tiba menyela pembicaraan.” Tapi besok kamu bawa laptop ya!”
          “Ya, insyaallah aku bisa” jawab Rena dengan cepat.
          Besoknya kelas sudah penuh dengan tema drama dan alur ceritanya serta perannya masing-masing. Dan di kelompok Rena memutuskan untuk mengambil cerita plesetan bawang merah dan bawang putih. Rena mendapatkan peran sebagai Bawang Putih. Peran sebagai gadis kaya yang tiba-tiba saja menjadi miskin.
          Selam 2 minggu sebelum tampil drama, dia harus membawa laptop beratnya. Semuanya baik-baik saja, dia pun mulai berubah menjadi mudah bergaul. Juga mulai suka bercerita tentang pengalamannya. Gadis yang dulu murung itu mulai disukai beberapa temannya walaupun ada juga yang diam-diam dibelakangnya membicarakan keburukannya, juga membanding-bandingkannya dengan orang lain. Dia juga sudah sering jalan bersama dengan Venita dan Ari. Juga Emma yang mulai suka meminjamkan beberapa buku padanya. Dan lambat-laun teman-temannya yang lain pun mulai mendekatinya karena dia cantik dan menarik.
          Ketika waktu drama telah tiba, anggota kelompoknya berperan dengan baik, Rena juga. Peran Bawang Putinnya cukup mudah dimainkan. Tapi di akhir drama selesai dan guru sudah keluar.
          PYURR....... Seseorang melemparinya dengan tepung air dan telur. Kemudian yang lain pun ikut melemparinya.
          “HAPPY BEST DAY TO YOU...”
          “HAPPY BEST DAY TO YOU...” teman-teman sekelasnya mulai berteriak dan bertepuk tangan.
          “HBD RENA....”
          Hbd, tapi ini bukan tanggal ulang tahunnya?
          PRAK!
“Auwww” seseorang melemparinya telur dengan kasar tepat di wajah.
“Dasar ganjen, sok cantik kamu” teriak Antin.
“Kenapa?” Rena balik bertanya karena bingung.
“SOK CANTIK!” Teriak Puput.
“SOK PINTER” teriak teman-temannya.
“NGGAK TAHU DIRI!”
“Apa maksud kalian?” Rena kembali bertanya dengan terbata-bata “kenapa kalian seperti in....innni, ap...pa salahku?”
“Kamu tuh aneh!” teriak Emma.
“Tapi kita teman...” Rena terisak.
“Nggak ada yang mau temenan sama kamu, tahu!” kata temannya yang lain.
Rena hanya diam, tidak ada seorangpun yang membelanya. Juga tidak ada teman, sama seperti dulu. Teriakan dan umpatan mereka terdengar begitu nyaring sampai mereka puas dan meninggalkannya sendiri.
“Rena!” tanya Venata yang baru saja datang setelah ingat konstum dramanya tertinggal.” Kamu kenapa?”
“Mereka....mereka jahat.... mereka bilang.... SUDAHLAH! Berhenti berpura-pura peduli, tidak ada yang mau menjadi temanku. Mereka mendekatiku hanya karena aku cantik, tetap saja bukan, aku selalu sendiri dan mudah diseperti inikan....” isak Rena dengan air mata di pipinya.
“Eng...enggak...aku tulus, bener aku tulus sama kamu. ya emang awalnya kamu tuh... Cuma diam aja jarang bicara, jarang masuk sekolah, juga serem.... kurus tapi aku baru tahu kamu.... kamu hebat, kamu enak diajak bercanda. Sudahlah, kamu nggak pantes dikayakginiin, kamu paantes kok punya temen.” kata Rena yang tersenggal-senggal karena bingung juga peduli dengan Rena.
“Enggak....” jawab Rena sambil mengulap air matanya.” Mereka melakukan seperti ini sejak aku kecil. Aku selalu diseperti inikan.”
“Enggak, kamu nggak boleh nangis. Aku mau kok jadi teman kamu. Mereka yang melakukan ini sama kamu pantas menyesal. Udah kamu harus bangkit, Ren. Buat mereka menyesal karena udah ngelakuin ini sama kamu.”
“Ayo.....” lanjut Venata mengulurkan tangannya ke arah Rena. Rena yang sedari dulu memang pendiam hanya diam saja. Fikirannya sedang bertanya-tanya tentang ketulusan Venata sekaligus bagaimana teman-tamannya yang lain memperlakukan gadis itu. Hari ini mereka pulang bersama, walaupun selama perjalanan Rena hanya diam tapi Venata tahu bahwa Rena sedang tidak bisa diganggu. Dia hanya mengantar Rena sampai di depan rumahnya dan langasung pamit pulang. Ketika membuka pintu, ibu Rena sangat kaget melihat kondisi putrinya.
“Rena, kamu kenapa?” tanya ibunya dengan suara keras.
“Rena..... ach ma, aku nggak tahu” jawab Rena pendek lalu masuk ke dalam rumahnya.
“Rena.... katakan sama ibu siapa yang berani melakukan ini sama kamu! SIAPA!”
Rena hanya diam, dia membanting pintu kamarnya dengan keras lalu mandi. Setelah selesai, gadis itu hanya diam sendiri sambil merenung. Menatap satu persatu foto masa kecilnya dan foto perpisahan SD dan SMPnya bersama teman-teman lama. Apa-apaan ini? Orang-orang ini, sama saja.... mengataiku penyakitan, mengataiku jelek, tidak ada yang tulus... kenapa? Karena aku pendiam? Kenapa? karena aku sering sakit-sakitan?
Sekali lagi gadis itu menatap Figura fotonya. Semakin lama menatap figura itu semakin kesal ia pada dirinya sendiri.
PRAK!


*******************

 Ini cerpen belum berakhir ya jadi  tunggu lanjutannya ya.
Previous
Next Post »
Thanks for your comment

Paling Dilihat