“Siapa tuhm cantik banget?”
Pertanyaan-pertanyaan itu berulang kali terucap diantara siswa-siswi SMK Taruna
dua ketika gadis cantik bertubuh kurus,
berambut panjang dan berkulit putih itu berjalan melewati kerumunan siswa-siswi
yang sedang berkumpul menunggu bel masuk berbunyi.
Gadis yang menjadi pusat perhatian itu
hanya diam, sesekali menunduk karena malu sesekali tersenyum tanpa sebab. Entah
karena senang atau karena sedih. Dulu bahkan tidak ada seorangpun yang tahu
siapa namanya, hanya tahu bahwa dia sangatlah pendiam dan gadis sakit-sakitan.
Sesampainya di kelas 11A, dia duduk di tempat duduknya tepat di pojok kanan
belakang di mana anak-anak lain jarang menoleh ke arah itu. Teman-temannya yang
sedari tadi bertanya-tanya siapa anak
baru itu mulai menanyainya satu persatu.
“Dari mana asal sekolah kamu?” tanya
salah satu teman laki-lakinya.
“Dulu gimana di sekolah lama?” tanya
yang lainnya.
“Kenapa kamu pindah ke sini?”
“Gimana rasanya pindah ke sekolah
baru?”
“Kenapa kamu duduk di situ? Yang duduk
di situ lagi sakit lho!!!”
“Oh, ya siapa nama kamu?”
Gadis itu hanya diam ketika satu
persatu teman-temannya bertanya. Kesal karena tidak ada jawaban teman-temannya
mulai meninggalkannya. Namun ada juga yang tetap duduk atau berdiri di
sekitarnya.
“Nggak usah malu-malu kita di sini kan
bakalan jadi teman, jadi rileks aja nggak usah grogi.” Kata gadis perempuan
bernama Emma dengan lembut.
“Emma, apa-apaan ah” jawab gadis itu
sambil menampakkan senyumnya. Mungkin belum banyak yang tahu diantara
teman-temannya bahwa gadis itu adalah Rena, gadis yang jarang bergaul dengan
teman-temannya dan sering sakit-sakitan. Bahkan dalam seminggu kadang ia hanya
bisa mengikuti 2 hari pelajaran, selebihnya dihabiskan di rumah, bersama ibunya
yang selalu sabar menemaninya ketika sakit.
Kemarin hampir 2 bulan dia tidak masuk
sekolah karena harus dirawat di rumah sakit. Tubuh kurusnya semakin kurus,
namun setelah tiga minggu lebih
perbaikan gizi, sekarang berat badannya sudah bertambah menjadi ideal dan wajah
cantiknya yang tersembunyi pun sudah
nampak.
Bel masuk sudah berbunyi, siswa-siswi
yang berkumpul di dekatnya sudah berlarian menuju tempat duduknya masing-masing
dan seperti biasanya teman sebangkunya
yang aktif dalam kegiatan pramuka baru datang setelah berkumpul mengurusi anak-anak pramuka kelas
10 pagi tadi. Gadis yang awalnya tampak tidak bersahabat dengan dia pun kini tersenyum
menyapanya.” Anak baru, ya? Hey, namaku Lala.” ucapnya sambil mengulurkan
tangan.
Rena hanya diam lalu tersenyum tipis.
Guru di mapel bahasa indonesia mengabsen satu per satu siswa di kelas. Dan
sampai di Absen ke 21 nama Rena dipanggil dan semua orang hanya diam setengah
kaget melihatnya mengacungkan jari.
“Rena???” tanya salah satu dari mereka
dengan heran.
“Bukannya dia anak baru, kok Rena
sih?”
“Nggak mirip.”
“Oprasi plastik ya!!!”
Satu persatu dari mereka menduga-duga.
Pelajarang di mulai dan jam 09.00 tepat waktu istirahat pelajaran selesai.
Kembali satu per satu siswa mulai menggerombolinya.
“Oh, kamu Rena, pantes Cuma diam sama
senyum, malu ya dibilang anak baru?” tanya Venita yang memang mudah
ceplas-ceplos.
“Rena? Aku nggak percaya kamu Rena,
kok nggak mirip ya?” tanya Arga ketua
kelas 11A.
“Nggak percaya, kukira murid baru,
maaf ya?” ucap Ari sambil tersenyum.
“Nggak papa kok, banyak yang salah
sangka.” Rena tersenyum tipis, setengah ihklas setengah canggung. Jarang sekali
ada orang yang bertanya dengannya kecuali kalau sedang kasihan melihatnya yang
hanya diam sendirian di tempat duduknya.
“Kamu sakit apa sih, kok lama banget
di rumah sakitnya?” tanya Emma yang sudah duduk berdesakan dengan Ari dan Venita
yang duduk di depan Rena.
“E..... alergi sama tifus tapi
alhamdulillah sudah sembuh sih” Rena meringis melihat beberapa ekspresi
teman-temannya yang penasaran juga teman-temannya yang lain yang sudah melotot dan
merengut melihat gadis pendiam dan pemalu itu banyak yang mendekatinya.
“Oh, pantes kamu sering nggak masuk
ya.” kata Arga memberi kesimpulan lalu
berjalan mendekati beberapa siswi wanita yang duduk di depan kelas. Satu
persatu dari mereka mulai membicarakannya, ada juga yang mengejeknya. Mereka
juga mulai mengatakannya operasi plastik.
Beberapa hari kemudian banyak yang
berubah, gadis pendiam itu jadi populer, bukan hanya karena dia cantik tapi
juga lambat laun menjadi anak teladan karena pandai dalam beberapa mata
pelajaran.
“Udah selesai, Ren?” tanya Venita yang akhir-akhir ini mulai suka
berteman dengan Rena.
“I....iya...tap...tapi aku belum
yakin” jawab Rena terabata-bata.
“Udah maju aja” Venita memberikan
dorongan.
“Iya dapet nilai tambahan nanti lho”
tambah Ari di dekatnya.
Dengan wajah tertunduk Rena maju mengerjakan
soal di papan tulis. Yang lainnya ada
yang mulai mengetahui potensi terpendam Rena tapi ada pula yang bertaka
bahwa Rena Cuma carper. Selesai mengerjakan dua teman di depannya yang mulai
bersahabat dengannya satu per satu memberika semangat juga pujian. Sedangkan
gadis di sebelahnya hanya diam. Lala mungkin salah satu dari mereka yang tidak
suka dengannya. Duduk sebangku dengan Rena saja hanya karena terpaksa teman
sebangkunya dulu berganti tempat duduk dengan teman sebangku Rena.
“Bagus juga kamu sudah mulai mau
maju.” kata Lala dengan wajah datar.” Aku nggak tahu kalau kamu ternyata bisa
juga matematika.”
“Oh, ya kelompokan bahasa Jawa kamu
sama siapa?” tanya Rena.
“Sama Puput, Anita ya, gerombolannya dia, kamu belum dapat
kelompok sih, bareng aja sama aku” ajak Lala dengan wajah yang masih datar.
“Iya” Jawab Rena masih seperti dulu,
menjadi gadis pasrah. Tapi beberapa hari kemudian ketika bertanya tentang
kelompkkan Drama bahasa jawa Lala Cuma diam. Lalu tersenyum-senyum sendiri ke
arah Puput dan teman-temannya ketika Rena bertanya.
“Aduh maaf banget Rena, kelompok kita udah pas, aduh, aku
lupa kalau Arga udah masuk jadi kelompok kita. Maaf ya....”kata Puput sambil
tersenyum lalu berbisik ke arah Lala.
“E.....” Rena hanya diam, dia berdiri
cukup lama tanpa banyak bicara.
“Rena kamu belum dapet kelompok?”
tanya Venita.
Rena menganggukkan kepala.
“Udah kamu masuk kelompok aku aja
kebetulan kurang satu” kata Antin tiba-tiba menyela pembicaraan.” Tapi besok
kamu bawa laptop ya!”
“Ya, insyaallah aku bisa” jawab Rena
dengan cepat.
Besoknya kelas sudah penuh dengan tema
drama dan alur ceritanya serta perannya masing-masing. Dan di kelompok Rena memutuskan
untuk mengambil cerita plesetan bawang merah dan bawang putih. Rena mendapatkan
peran sebagai Bawang Putih. Peran sebagai gadis kaya yang tiba-tiba saja
menjadi miskin.
Selam 2 minggu sebelum tampil drama,
dia harus membawa laptop beratnya. Semuanya baik-baik saja, dia pun mulai
berubah menjadi mudah bergaul. Juga mulai suka bercerita tentang pengalamannya.
Gadis yang dulu murung itu mulai disukai beberapa temannya walaupun ada juga
yang diam-diam dibelakangnya membicarakan keburukannya, juga
membanding-bandingkannya dengan orang lain. Dia juga sudah sering jalan bersama
dengan Venita dan Ari. Juga Emma yang mulai suka meminjamkan beberapa buku
padanya. Dan lambat-laun teman-temannya yang lain pun mulai mendekatinya karena
dia cantik dan menarik.
Ketika waktu drama telah tiba, anggota
kelompoknya berperan dengan baik, Rena juga. Peran Bawang Putinnya cukup mudah
dimainkan. Tapi di akhir drama selesai dan guru sudah keluar.
PYURR....... Seseorang melemparinya
dengan tepung air dan telur. Kemudian yang lain pun ikut melemparinya.
“HAPPY BEST DAY TO YOU...”
“HAPPY BEST DAY TO YOU...” teman-teman
sekelasnya mulai berteriak dan bertepuk tangan.
“HBD RENA....”
Hbd, tapi ini bukan tanggal ulang
tahunnya?
PRAK!
“Auwww” seseorang melemparinya telur dengan kasar tepat di wajah.
“Dasar ganjen, sok cantik kamu” teriak Antin.
“Kenapa?” Rena balik bertanya karena bingung.
“SOK CANTIK!” Teriak Puput.
“SOK PINTER” teriak teman-temannya.
“NGGAK TAHU DIRI!”
“Apa maksud kalian?” Rena kembali bertanya dengan terbata-bata “kenapa
kalian seperti in....innni, ap...pa salahku?”
“Kamu tuh aneh!” teriak Emma.
“Tapi kita teman...” Rena terisak.
“Nggak ada yang mau temenan sama kamu, tahu!” kata temannya yang lain.
Rena hanya diam, tidak ada seorangpun yang membelanya. Juga tidak ada
teman, sama seperti dulu. Teriakan dan umpatan mereka terdengar begitu nyaring
sampai mereka puas dan meninggalkannya sendiri.
“Rena!” tanya Venata yang baru saja datang setelah ingat konstum
dramanya tertinggal.” Kamu kenapa?”
“Mereka....mereka jahat.... mereka bilang.... SUDAHLAH! Berhenti
berpura-pura peduli, tidak ada yang mau menjadi temanku. Mereka mendekatiku
hanya karena aku cantik, tetap saja bukan, aku selalu sendiri dan mudah
diseperti inikan....” isak Rena dengan air mata di pipinya.
“Eng...enggak...aku tulus, bener aku tulus sama kamu. ya emang awalnya
kamu tuh... Cuma diam aja jarang bicara, jarang masuk sekolah, juga serem....
kurus tapi aku baru tahu kamu.... kamu hebat, kamu enak diajak bercanda.
Sudahlah, kamu nggak pantes dikayakginiin, kamu paantes kok punya temen.” kata
Rena yang tersenggal-senggal karena bingung juga peduli dengan Rena.
“Enggak....” jawab Rena sambil mengulap air matanya.” Mereka melakukan
seperti ini sejak aku kecil. Aku selalu diseperti inikan.”
“Enggak, kamu nggak boleh nangis. Aku mau kok jadi teman kamu. Mereka
yang melakukan ini sama kamu pantas menyesal. Udah kamu harus bangkit, Ren.
Buat mereka menyesal karena udah ngelakuin ini sama kamu.”
“Ayo.....” lanjut Venata mengulurkan tangannya ke arah Rena. Rena yang
sedari dulu memang pendiam hanya diam saja. Fikirannya sedang bertanya-tanya
tentang ketulusan Venata sekaligus bagaimana teman-tamannya yang lain
memperlakukan gadis itu. Hari ini mereka pulang bersama, walaupun selama
perjalanan Rena hanya diam tapi Venata tahu bahwa Rena sedang tidak bisa
diganggu. Dia hanya mengantar Rena sampai di depan rumahnya dan langasung pamit
pulang. Ketika membuka pintu, ibu Rena sangat kaget melihat kondisi putrinya.
“Rena, kamu kenapa?” tanya ibunya dengan suara keras.
“Rena..... ach ma, aku nggak tahu” jawab Rena pendek lalu masuk ke
dalam rumahnya.
“Rena.... katakan sama ibu siapa yang berani melakukan ini sama kamu!
SIAPA!”
Rena hanya diam, dia membanting pintu kamarnya dengan keras lalu mandi.
Setelah selesai, gadis itu hanya diam sendiri sambil merenung. Menatap satu
persatu foto masa kecilnya dan foto perpisahan SD dan SMPnya bersama
teman-teman lama. Apa-apaan ini?
Orang-orang ini, sama saja.... mengataiku penyakitan, mengataiku jelek, tidak
ada yang tulus... kenapa? Karena aku pendiam? Kenapa? karena aku sering
sakit-sakitan?
Sekali lagi gadis itu menatap Figura fotonya. Semakin lama menatap
figura itu semakin kesal ia pada dirinya sendiri.
PRAK!
*******************


Out Of Topic Show Konversi KodeHide Konversi Kode Show EmoticonHide Emoticon